Minggu, 27 November 2011

Askep Lansia Depresi

MODUL PENANGANAN KLIEN LANSIA DENGAN DEPRESI

Dampak dari kejadian tsunami dan gempa akan menyebabkan berbagai masalah dan dampak kesehatan bagi masyarakat di daerah bencana tersebut. Masalah dan dampak dari bencana tersebut dialami juga oleh para lansia. Salah satu masalah kesehatan yang teridentifikasi pada lansia adalah depresi.
Depresi bukanlah hal yang normal terjadi pada lansia walaupun depresi biasa terjadi pada lansia. Kira-kira tiga dari 100 orang lansia berusia diatas 65 tahun mengalami depresi. Angka ini akan meningkat pada lansia berusia 80 tahun atau lebih. Walaupun demikian penanganan depresi akan berhasil dilakukan dengan pengobatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya secara tepat.
Pada modul ini akan dibahas tentang asuhan keperawatan pasien lansia dengan depresi.
Tanda dan gejala depresi antara lain:
- Sering mengalami gangguan tidur ( insomnia atau hipersomnia) , gangguan ini serinng disertai mimpi yang tidak menyenangkan.
- Sering kelelahan, lemas, kurang dapat menikmati kehidupan sehari-hari
- Kebersihan dan kerapihan diri sendiri diabaikan
- Cepat sekali menjadi marah dan tersinggung
- Daya konsentrasi rendah dan daya ingat menurun
- Pada pembicaraan sering sekali disertai dengan rasa pesismis atau perasaan putus asa (tidak ada gairah hidup)
- Berkurang atau hilangnya napsu makan sehingga berat badan menurun secara cepat
- Kadang dalam pembicaraannya ada kecenderungan untuk bunuh diri, adanya pikiran tentang kematian
- Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi kreatifitas menurun, produktifitas juga menurun.

A. Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini saudara diharapkan mampu:
Melakukan pengkajian keperawatan pasien lansia dengan depresi
Mengidentifikasi diagnosa keperawatan pasien lansia dengan depresi
Melakukan tindakan keperawatan dalam berbagai pendekatan tindakan keperawatan pasien lansia dengan depresi
Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pasien lansia dengan depresi
Mendokumentasikan asuhan keperawatan pasien lansia dengan depresi.

B. Mengkaji Klien Lansia Dengan Depresi
1. Membina hubunga saling percaya dengan klien lansia
Untuk melakukan pengkajian pada lansiadengan depresi, pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia.
Untuk dapat membina hubngan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
§ selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
§ Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien.
§ Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
§ Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan.
§ Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas tersebut.
§ Bersikap empati dengan cara:
o Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukkan perhatian
o Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan menjawab
o Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
o Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.
Latihan 1. Membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia.
“ Selamat siang pak, bu”!
“ Saya pak……, saya senang dipanggil pak…….., saya perawat dari puskesmas…… yang datang untuk merawat bapak/ibu”
“ Nama bapak/ibu siapa?”
“ Senang diapanggil siapa?”
“ Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini”?
“ Saya mendapat tugas untuk merawat bapak/ibu”. “ Apakah bapak/ibu setuju”.

2. Mengkaji pasien lansia dengan depresi
Untuk mengkaji pasien lansia dengan depresi, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objective depresi. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:
Penampilan tidak rapi, kusut dan dandanan tidak rapi, kulit kotor (kebersihan diri kurang)
Interaksi selama wawancara: kontak mata kurang, tampak sedih, murung, lesu, lemah, komunikasi lambat/tidak mau berkomunikasi.
Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak sesuai, apakah lansia mempunyai ide untuk bunuh diri.
Bila data tersebut saudara peroleh, data subjective didapatkan melalui wawancara dengan menggunakan skala depresi pada lansia (Depresion Geriatric Scale)
Latihan 2
Berikut ini merupakan percakapan untuk mengkaji skala depresi pada lansia. Dalam percakapan selalu diawali dengan menyebut nama perawat dan memamnggil nama pasien.
“ Bagaimana perasaan ibu pagi ini?”
“ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang perasaan ibu”
1. Apakah anda merasa nyaman dalam kehidupan ini? Ya/tidak
2. Apakah anda dapat mengalami penurunan dalam melakukan
aktivitas dan hobi? Ya/tidak
3. Apakah anda merasa hidup ini hampa? Ya/tidak
4. Apakah anda sering merasa bosan? Ya/tidak
5. Apakah anda optimis terhadap masa depan? Ya/tidak
6. Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi? Ya/tidak
7. apakah anda merasa bahagia sepanjang waktu? Ya/tidak
8. Apakah anda sering merasa sendirian? Ya/tidak
9. Apakah anda lebih senang berada di rumah daripada Ya/tidak
keluar rumah dan mengerjakan sesuatu yang baru?
10. Apakah anda mempunyai masalah dengan daya ingat? Ya/tidak
11. Apalah anda merasa senang hidup saat ini? Ya/tidak
12. Apakah anda merasa tidak berharga? Ya/tidak
13. Apakah anda besemangat saat ini? Ya/tidak
14. Apakah anda merasa orang lain lebih baik dari anda Ya/tidak
15. Apakah anda merasa orang lain lebih baik dari anda? Ya/tidak

Cara menilai:
Jika saudara menemukan 8 atau lebih jawaban yang di cetak hitam maka, hal tersebut mengindikasikan adanya depresi pada lansia.
Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka ditetapkan diagnosa keperawatan:
Ketidak berdayaan
Risiko bunuh diri
Gangguan pola tidur

Latihan 3. Coba saudara rumuskan diagnosa keperawatan pasien lansia dengan depresi.
Dari data yang anda peroleh pada latihan 2, buatlah diagnosa keperawatan sesuai dengan data tersebut! Dokomentasikan dalam format daftar masalah keperawatan, diagnosa keperawatan.

C.Tindakan Keperawatan
1. Tindakan Keperawatan pasien Lansia depresi dengan ketidakberdayaan.
Tujuan tindakan keperawatan pada lansia depresi meliputi tujuan untuk klien dan tujuan untuk keluarga.
Tindakan keperawatan untuk pasien:
Tujuan agar pasien mampu:
a. Berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya
b. Melakukan kegiatan dalam menyelesaikan masalahnya.
Tindakan
a. Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggungjawab terhadap perawatan dirinya
1) Beri kesempatan memilih tujuan perawatan dirinya
2) Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk mencapai
tujuan.
b. Membantu pasien untuk melakukan aktivitas yang telah ditetapkan.
c. Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya
d. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
e. Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.

Latihan 4. Tindakan keperawatan pasien lansia dengan depresi:
“ Ibu mau pilih yang mana? Apakah ibu mau latihan gosok gigi atau gunting kuku”
Jika pasien memilih gunting kuku:
“ Menurut ibu bagaimana cara-cara menggunting kuku?”
“ Baik sekali, ibu bisa menyebutkan cara untuk menggunting kuku
“Ibu mau gunting kuku sendiri atau dibantu oleh suster?”
“ Coba sekarang ibu menggunting kuku sendiri”
“ Bagus sekali, ibu dapat melakukannya”
“ Bagaimana perasaan ibu setelah menggunting kuku sendiri?”
“ Kapan lagi ibu mau menggunting kuku” Bagaimana kalau ibu menggunting kuku sekali seminggu”
“ Bagaimana kalau jadwal menggunting kuku kita masukkan dalam jadwal kegiatan ibu”

Tindakan untuk keluarga
Tujuan
Keluarga mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien.
Keluarga mampu membantu pasien mengoptimalkan kemampuannya.
Tindakan
a. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien
b. Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat ini
c. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien
d. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
e. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

2. Tindakan keperawatan pasien Lansia depresi dengan risiko bunuh diri
Tindakan pada pasien.
Tujuan
a. Klien tidak membahayakan dirinya sendiri
b. Pasien mempunyai alternatif penyelesaian masalah yang konstruktif.
Tindakan
a. Diskusikan dengan pasien tentang ide-ide bunuh diri
b. Buat kontrak dengan pasien untuk tidak melakukan bunuh diri
c. Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab timbulnya ide bunuh diri
d. Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang konstruktif
e. Bantu pasien untuk memilih cara yang palin tepat untuk menyelesaikan masalah secara konstruktif.
f. Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan tepat.

Latihan 5. Tindakan keperawatan pasien lansia dengan depresi: Risiko Bunuh diri.
“ Pernahkah bapak/ibu berfikir untuk bunuh diri/ mrlukai diri sendiri?”
“ Apakah yang bapak/ibu rencanakan untuk dikerjakan?”
“ Apakah bpk/ibu memiliki cara untuk melaksanakan hal ini?”
“Apa yang menyebabkan ibu/bapak berfikir untuk bunuh diri/melukai diri?”
“Adakah hal-hal yang menyebabkan ibu tidak nyaman?”
“Suster senang sekali ibu dapat menceritakan perasaan ibu!”
“Menurut ibu/bapak, adakah cara lain yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah ibu/bapak, selain melukai diri?”
Jika ya, tanyakan:
“Coba bapak sebutkan cara tersebut!”
“Dapatkah bapak/ibu memilih cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut?”Bagaimana kalau suster menjelaskan cara penyelesaian masalah yang lebih tepat yang lain, seperti:
Secara spiritual, bapak bisa berdoa dan menyerahkan masalah bapak pada Tuhan YME, atau bapak bisa mengungkapkan masalah yang bapak hadapi dengan orang yang bapak percaya, selain itu bapak bisa melakukan aktivitas yang membuat perasaan bapak bahagia dan berguna seperti melakukan hobby bapak.
“Menurut bapak, kira-kira, cara mana yang mana yang ingin bapak latih untuk mengatasi masalah bapak!”



Tindakan untuk keluarga
Tujuan:
Keluarga mampu:
a. Mengidentifikasi tanda-tanda perilaku bunuh diri pasien
b. Menciptakan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku bunuh diri
c. Membantu pasien menggunakan cara penyelesaian masalah yang konstruktif
Tindakan
a. Diskusikan dengan keluarga tentang tanda-tanda perilaku klien saat muncul ide bunuh diri
b. Diskusikan tentang cara mencegah perilaku bunuh diri pada pasien
• Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien, singkirkan semua benda-benda yang memiliki potensi untuk membahayakan klien (benda tajam, tali pengikat, ikat pinggang, dan benda-benda lain yang terbuat dari kaca)
• Antisipasi penyebab yang dapat membuat pasien bunuh diri
• Lakukan pengawasan secara terus menerus
c. Anjurkan keluarga meluangkan waktu bersama klien
d. Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki klien dalam menyelesaikan masalah
e. Anjurkan keluarga untuk membantu klien untuk menggunakan koping positif dalam menyelesaikan masalah
f. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap penggunaan koping positif yang telah digunakan oleh klien.

3. Tindakan keperwatan pasien lansia gangguan pola tidur
1. Tindakan untuk klien
Tujuan :
a. Klien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur
b. Klien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Tindakan :
a. Bersama klien mengidentifikasi gangguan pola tidur
b. Diskusikan cara-cara utuk memenuhi kebutuhan tidur
Kurangi tidur pada siang hari
Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur
Hindarkan minum yang mengandung kafein dan coca cola
Mandi air hangat sebelum tidur
Dengarkan musik yang lembut sebelum tidur
c. Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan kebutuhannya
d. Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tidurnya.

2. Tindakan untuk keluarga
Tujuan
a. Keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala gangguan pola tidur
b. Keluarga dapat membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan tidur
Tindakan
a. Diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala gangguan pola tidur pada pasien
b. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang untuk memfasilitasi agar pasien dapat tidur.

D. Evaluasi
Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang saudara lakukan, dapat dilakukan dengan menilai kemampuan klien dan keluarga:
1. Ketidakberdayaan
Kemampuan pasien:
a. Berpartisipasi dalam menentukan perawatan diri
b. Melakukan kegiatan positif dalam menyelesaikan masalah
Kemampuan keluarga
a. mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien
b. Membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
2. Risiko bunuh diri
Kemampuan pasien:
a. Mampu mengungkapkan ide bunuh diri
b. mengenali cara-cara untuk mencegah bunuh diri
c. Mendemonstrasikan cara menyelesaikan masalah yang konstruktif
Kemampuan keluarga:
a. Keluarga dapat mengenali tanda dan gejala awal perilaku bunuh diri
b. Keluarga menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku bunuh diri
c. Keluarga mampu membantu pasien dalam menetapkan cara-cara yang positif untuk mengatasi masalah
3. Gangguan pola tidur
Kemampuan klien:
a. Klien mampu mengungkapkan penyebab gangguan tidur
b. Klien mampu menetapkan cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tidur
Kemampuan keluarga:
a. Keluarga mampu mengidentifikasi penyebab gangguan tidur yang dialami pasien
b. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang nyaman untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tidur pasien
c. Keluarga mampu membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan tidur

E. Mendokumentasikan asuhan keperawatan
Latihan evaluasi
Coba saudara mendokumentasikan asuhan keperawatan pasien lansia dengan depresi mulai dari pengkajian sampai dengan menggunakan format yang telah disediakan.

KESEGARAN JASMANI / OLAHRAGA BAGI LANSIA

Kesegaran Jasmani
 Adl kemampuan seseorang utk melaksanakan tugas sehari2 tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih memiliki cadangan tenaga utk menikmati waktu senggangnya dg baik.
(Pudjiastuti dan Utomo,2003)
 Kesegaran jasmani pd lansia adl kebugaran yg berhubungan dg kesehatan, yaitu jantung-paru, peredaran darah, kekuatan otot dan kelenturan sendi.
 Intensitas latihan
 Dapat dipantau melalui perhitungan denyut nadi:
 Contoh:
 Utk lansia yg berusia 55 thn hrs melakukan latihan shg denyut nadi mencapai labih dari 115/menit dan tidak melampaui 140/menit.
 Apabila saat melakukan latihan denyut nadi tdk mencapai 115/menit, maka latihan kurang bermanfaat utk memperbaiki kesegaran jasmani.
 ttp jika melampaui 140/menit, dapat membahayakan kesehatan.
1. Lamanya latihan
Latihan akan bermanfaat utk meningkatkan kesegaran jasmani dlm zona latihan paling sedikit 15 menit
2. Frekuensi latihan
utk memperbaiki diri dan mempertahankan kesegaran jasmani, latihan plg sedikit 3 hari atau sebanyak2nya 5 hari/minggu
misal hari: senin, rabu, dan jum’at.
bila diluar gedung sebaiknya sebelum jam 10.00 atau sore setelah jam 15.00
 Manfaat Kesegaran Jasmani
1. Manfaat fisiologi
Dampak langsung:
• Mengatur kadar gula darah
• Merangsang adrenalin dan noradrenalin
• Peningkatan kualitas dan kuantitas tidur
Dampak jangka panjang dpt meningkatkan:
• Daya tahan aerobik/kardiovaskuler
• Kekuatan otot rangka
• Kelenturan
• Keseimbangan dan koordinasi gerak
• Kelincahan gerak
2. Manfaat Psikologi
Dampak langsung:
• Memberi perasaan santai
• Mengurangi ketegangan dan kecemasan
• Meningkatkan perasaan senang
Dampak jangka panjang dpt meningkatkan:
• Kesegaran jasmani dan rohani scr utuh
• Kesehatan jiwa
• Fungsi kognitif
• Penampilan dan fungsi motorik
• Ketrampilan
3. Manfaat sosial
Dampak langsung dpt membantu:
• Pemberdayaan usia lanjut
• Peningkatan integritas sosial
Dampak jangka panjang meningkatakan:
• Keterpaduan
• Hubungan kesetiakawanan sosial
• Jaringan kerja sama sosial budaya
• Pertahanan peranan dan pembentukan peran baru
• Kegiatan antar generasi
 Secara umum manfaat kesegaran jasmani bagi kelompok lansia yaitu dapat meringankan biaya pemeliharaan kesehatan, meningkatkan produktivitas, serta mengangkat derajat dan martabat lansia.
 Prinsip Program Latihan Fisik
1. Membantu tubuh agar tetap bergerak/berfungsi
2. Menaikkan kemampuan daya tahan tubuh
3. Memberi kontak psikologi dg sesama shg tdk merasa terasing
4. Mencegah terjadinnya cedera
5. Mengurangi/menghambat proses penuaan
 Ketentuan2 Latihan Fisik
1. Latihan fisik harus disenangi/diminati
2. Latihan hrs disesuaikan dg kondisi kesehatan
3. Sebaiknya bervariasi
4. Bersifat aerobik, berlangsung lama dan ritmik

5. Dosis latihan:
• Lama minimal 15-45 mnt scr kontinyu
• Frekuensi 3-4/mgg
• Intensitas latihan: 60-80% denyut nadi maksimal, (DNM)=200-usia
6. Pada awal latihan lakukan pemanasan, peregangan, kmd latihan inti. Pd akhir latihan lakukan pendinginan dan peregangan lagi. (cek nadi)
7. Sblm latihan, minum terlebih dulu utk menggantikan keringat yg hilang.
8. Makan minimal 2 jam sebelum latihan agar tdk mengganggu pencernaan.
9. Latihan diawasi pelatih agar tdk terjadi cedera
10. Latihan dilakukan scr lambat, tdk boleh eksplosif, gerakan tdk boleh menyentak dan memutar terutama utk tlg belakang.
11. Pakaian terbuat dr bahan yg ringan dan tipis, jngan yg terlalu tebal dan sgt menutup badan
12. Jenis sepatu sebaiknya sepatu lari/jalan yg mempunyai sol/bantalan yg tebal pd daerah tumit
13. Waktu latihan pagi atau sore
14. Tempat latihan sebainya lapangan atau taman
15. Landasan tempat latihan tdk terlalu keras, dianjurkan di atas tanah/rumput
 Hal2 yg perlu diperhatikan saat latihan fisik
1. Komponen yg dilatih: ketahanan kardiopulmonal, kelenturan, kekuatan otot, komposisi tubuh, dan kelincahan gerak
2. Selalu memperhatikan keselamatan
3. Latihan scr teratur dan tdk terlalu berat
4. Latihan dlm bentuk permainan sangat dianjurkan.
5. Dilakukan dg bertahap
6. Hindari kopetisi dlm bentuk apapun
 Teknik dan cara berlatih
1. Pemanasan (warming up)
– Gerakan umum dilakukan scr lambat dan hati2 dilakukan bersama dg peregangan (stretching). Kira2 8-10 menit
– Pada 5 menit terakhir pemanasan dilakukan lebih cepat.
– Pemanasan utk mengurangi cedera dan mempersiapkan sel2 tubuh agar dpt turut serta dlm proses metabolisme yg meningkat.
2. Latihan Inti
latihan ini bergantung pd komponen yg dilatih. Gerakan senam scr berurutan dan diiringi musik sesuai gerakannya. Untuk lansia biasanya dilatih:
– Daya tahan (endurance)
– Kardiopulmonal dg latihan2 bersifat aerobik
– Fleksibilitas dg peregangan
– Kekuatan otot dg latihan beban
– Komposisi tubuh dpt diatur dg pengaturan pola makan, latihan aerobik kombinasi dg latihan beban kekuatan.
3. Pendinginan (cooling down)
– Dilakukan scr aktif. Gerakan umum yg ringan sampai suhu tubuh kembali normal.
– ditandai dg pulihnya denyut nadi dan terhentinya keringat.
– Pendinginan dilakukan spt pd pemanasan, yaitu selama 8 – 10 menit.
 Macam2 OR yg cocok utk lansia
1. Pekerjaan rumah dan berkebun
Dikerjakan scr tepat agar nafas sedikit lebih cepat, denyut jantung >, dan otot menjadi lelah. Shg tubuh berkeringat
2. Berjalan2
sangat baik utk meregangkan otot2 kaki dan bila mkn lama mkn cepat bermafaat utk daya thn tbh. Jika melangkah dg pjg dan mengayunkan lengan 10-20X dpt melenturkan tubuh.
3. Jalan cepat
adl OR lari yg bukan utk perlombaan dan kecepatan<11 km/jam atau di bawah 5,5 m/km
Termasuk cara yg aman, murah dan menyenangkan, mudah serta berguna jk dilakukan dg benar
fre 2-5 x/mgg, lama lthn 15-30 mnt, > 2 jam stlh makan
 Apabila nafas mulai sesak atau dada terasa sakit maka latihan dihentikan
 Intensitas: lakukan 60-80% dari denyut nadi maksimum.
4. Renang
mrp OR yg paling baik dilakukan utk menjaga kesehatan. Krn pd saat berenang hampir semua otot tubuh bergerak, shg kekuatan otot semakin meningkat. Namun kurang diminati dan segan utk melakukannya mengingat keadaan kulit lansia atau pakaian yg harus digunakan.
5. Bersepeda
Baik bagi penderita artritis, krn tdk menyentuh lantai yg akan menyebabkan sakit pada sendi2
Baik utk meningkatkan peregangan dan daya tahan, tetapi tdk menambah kelenturan pd derajat yg lebih tinggi
6. Senam
Manfaat jika dilakukan teratur dan benar adl:
– Mempertahankan /meningkatkan taraf kesegaran jasmani yg baik
– Mengadakan koreksi thd kesalahan sikap dan gerak
– Memperlambat proses degenerasi krn perubahan usia
– Membentuk kondisi fisik
– Memberikan rangsang bagi saraf2 yg lemah
– Memupuk rasa tgjwb thd kesehatan diri sendiri
 OR yg membahayakan bagi lansia
1. Sit-up dg kaki lurus
cara2 sit-up yg dilakukan dg kaki lurus dan lutut dipegang dpt menyebabkan mslh pd punggung.
2. Meraih ibu jari kaki
dapat menyebabkan cedera. Lutut menjadi hiperekstensi.

3. Mengangkat kaki
mengangkat kaki pd posisi tidur terlentang sampai kaki terangkat ± 15 cm dr lantai, kmd bertahan beberapa saat selama mungkin.
Latihan ini dpt menyebabkan rasa sakit pd punggung bagian bawah (low back pain) dan menyababkan terjadinya lordosis.
4. Melengkungkan punggung
gerakan hiperekstensi ini byk dilakukan dg tujuan meregangkan otot perut agar menjadi kuat.
Hal ini kurang benar, krn dg melengkungkan punggung tdk dpt menguatkan otot perut, melainkan melemahkan persendian tulang punggung.

Pengenalan Tentang Lansia

Lansia di era modern
Masyarakat Lanjut Usia
Kenyataan lansia makin nyata keberadaannya
Masyarakat lansia diramalkan akan berlanjut hingga 50 tahun ke depan
lansia meningkat

Deputi I Menkokesra

Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan
semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup
Menyebabkan jumlah penduduk Lanjut Usia dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Jika pemerintah dan berbagai program pembangunan tidak mengantisipasi keadaan ini maka keberadaan Lanjut Usia akan menjadi bom waktu.
Alasan Meningkatnya Angka lansia
kemajuan dalam bidang ilmu dan pelayanan kesehatan
Perbaikan kondisi sosial ekonomi dapat menurunkan angka mortalitas shg lansia panjang umur
Tingkat pengetahuan masyarakat yang meningkat
Penurunan jumlah kelahiran
Perubahan demografik lansia
Peningkatan Proporsi lansia merupakan fenomena di seluruh dunia.
Selama 20 tahun dari 1960-1980, peningkatan 50% orang berusia 60 dan 80 tahun dan cenderung berlanjut.

Keadaan Lansia di Indonesia
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging struktured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%.
Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk Lanjut Usia (Lansia)nya sebanyak 7% adalah di pulau Jawa dan Bali.

Th 2000 lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28%
Pada Th 2020 menjadi sebesar 11,34% (BPS, 1992)

Jumlah Penduduk Lansia Indonesia


Jumlah penduduk Lansia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih 19 juta, usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9 juta (9,77%),
usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%), dengan usia harapan hidup 71,1 tahun.
Dari jumlah tersebut, pada tahun 2010, jumlah penduduk Lansia yang tinggal di perkotaan sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di perdesaan sebesar 15.612.232 (9,97%).

Terdapat perbedaan yang cukup besar antara Lansia yang tinggal di perkotaan dan di perdesaan.
Perbedaan ini bisa jadi karena antara lain Lansia yang tadinya berasal dari desa lebih memilih kembali ke desa di hari tuanya, dan mungkin
juga bisa jadi karena penduduk perdesaan usia harapan hidupnya lebih besar
karena tidak menghirup udara yang sudah berpolusi, tidak sering menghadapi hal-hal yang membuat mereka stress, lebih banyak tenteramnya ketimbang hari-hari tiada stress
atau juga bisa jadi karena makanan yang dikonsumsi tidak terkontaminasi dengan pestisida sehingga membuat mereka tidak mudah terserang penyakit sehingga berumur panjang.
Usia harapan hidup (UHH)
Usia harapan hidup (UHH) tertinggi laki-laki adalah DKI Jakarta dan DIY,
sedangkan terendah di Jawa Barat, sedangkan UHH perempuan tertinggi adalah adalah DKI Jakarta, dan terendah di Jawa Barat.
Sedangkan jumlah penduduk Lansia tertinggi dan terendah baik laki-laki maupun perempuan adalah di Jawa Timur (tertinggi) dan Bali (terendah).
Proses kematian Lansia di perkotaan disebabkan penuaan, sedangkan di perdesaan lebih banyak disebabkan oleh penyakit infeksi.


Gerontologi, Geriatri dan Keperawatan Gerontik
Ilmu Keperawatan Gerontik = Ilmu + Kep + Gerontik
Keperawatan, Konsisten thd hasil Lokakaraya Nas Kep 1983
Gerontik = Gerontologi + Geriatrik
Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas / menangani ttg proses penuaan & masalah yang timbul pd orang yg berusia lanjut.

PENGERTIAN
Gerontologi adl suatu pendekatan ilmiah dr berbagai aspek proses penuaan, y biologis, psiko, sosio, ekonomi, kesehatan, lingk, dll (Depkes RI 2001)
Gerontologi adl ilmu yg mempelajari seluruh aspek penuaan (Kozier, 1987)
Gerontologi adl ilmu yg mempelajari proses menua dan masalah yg mungkin terjadi pada lansia

Geriatri merupakan cabang ilmu dari ilmu gerontologi dan kedokteran yg mempelajari kesehatan pada lansia dalam berbagai aspek
Meliputi:
- promotif
- preventif
- Kuratif
- rehabilitatif
Pada prinsipnya geriatri megusahakan masa tua yg bahagia dan berguna (Depkes, 2000)
Keperawatan gerontik
Keperawatan Gerontik adl suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu & kiat/tehnik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-spiritual & kultural yang holistic yang di tujukan pd klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
LINGKUP PERAN TUJUAN DAN TANGGUNG JAWAB

Fenomena yg menjadi bidang garap keperawatan Gerontik adalah tidak terpenuhinya KDM lanjut usia sebagai akibat proses penuaan.
Lingkup Asuhan Keperawtan Gerontik meliputi :
- Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan.
- Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan.
- Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi keterbatasan akibat proses penuan.
Tujuan Kep Gerontik
Memenuhi kenyamanan lansia
Mempertahankan fungsi tubuh
Membantu lansia menghadapi kematian dengan tenang dan damai melalui ilmu dan teknik keperawatan gerontik

Dalam prakteknya Perawat Gerontik Melakukan Peran & Fungsinya adalah Sebagai berikut :
Sebagai Care Giver /Pemberi asuhan Kep. Langsung
Sebagai pendidik klien lansia
Sebagai Motivator
Sebagai Advokasi Klien
Sebagai Konselor

Tanggung Jawab Perawat Gerontik :

Membantu klien Lansia memperoleh kesehatan secara optimal.
Membantu Klien Lansia memelihara kesehatannya.
Membantu Klien Lansia menerima kondisinya.
Membantu Klien Lansia menghadapi ajal dengan diperlakukannya secara manusiawi sampai meninggal.

Sifat Pelayanan Gerontik :
Independen (mandiri)
Interdependen (kolaborasi)
Humanistik
Holistik


Kep Kesehatan Dasar
Adalah bantuan, bimbingan, penyuluhan, serta pengawasan yg diberikan oleh tenaga keperawatan (perawat, petugas panti terlatih) untuk memenuhi kebutuhan dasar lansia.
Pada lansia secara individu terjadi kemunduran fungsi tubuh, baik secara biologis, psiko, maupun sosial shg dpt menimbulkan berbagai masalah.

Kep Dasar pada kelompok:
Kelompok yg masih aktif =
- keadaan fisik masih mampu bergerak tanpa bantuan
- kebutuhan sehari2 msh dilaksanakan sendiri
- perlu bimbingan dan pengawasan yg berkesinambungan serta bantuan utk mencegah risiko tinggi
- agar tidak mempercepat ketergantungan kepada orang lain




2. Kelompok lansia yg pasif
- keadaan fisiknya memerlukan pertolongan orang lain, misal sakit atau lumpuh.


Tujuan gerontik
Mempertahankan derajat kesehatan lansia pd taraf setinggi2ny serta terhindar dr penyakit & ggn
Memelihara kondisi kesehatan dg aktivitas2 fisik & mental
Merangsang para petugas kesehatan utk dpt mengenal & menegakkan dx yg tepat dan dini

Mencari upaya semaksimal mungkin agar lansia yg menderita suatu penyakit ato ggn, msh dpt mempertahankan kebebasan yg maksimal tanpa perlu suatu pertolongan.
Bila lansia sudah tdk dpt disembuhkan dan sampai stadium terminal, ilmu ini mengajarkan utk tetap memberikan bantuan yg simpatik & perawtan dg penuh pengertian, shg kematiannya berlangsung dengan tenang (comfortable death)
Akhirnya…………..
Perawat gerontik memiliki tanggung jawab membantu klien dlm memperoleh kesehatan optimal, memelihara kesehatan, menerima kondisinya, serta persiapan menghadapi ajal
Definisi
Menurut WHO
Lansia meliputi:
Usia pertengahan (middle age): 45-59
Lanjut usia (elderly): 60-74
Lanjut usia tua (old): 75-90
Usia sangat tua (very old): di atas 90

Usia biologis =menunjuk pada jangka waktu seseorang sejak lahir hidup
Usia psikologis= menunjuk pd kemampuan seseorang utk mengadakan penyesuaian2 kpd situasi yg dihadapinya
Usia sosial= menunjuk pd peran2 yg diharapkan atau diberikan masyarakat kpd seseorang sehubungan dg usianya.
Mitos lansia
Mitos kedamaian dan ketenangan
Mitos konservatisme dan kemunduran
Mitos berpenyakitan
Mitos tdk jatuh cinta
Mitos aseksual
Mitos ketidakproduktifan

LANSIA DAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA

Dengan semakin luasnya pelaksanaan upaya kesehatan dan keberhasilan pembangunan nasional pd semua sektor, shg hal tersebut mendorong peningkatan kesejahteraan sosioekonomi serta kesehatan.
Pendekatan yg harus dilakukan dlm melaksanakan program kesehatan adl pendekatan kpd keluarga dan masyarakat
Penuaan
adalah suatu proses alami yg tidak dapat dihindari, berjalan secara terus menerus, dan berkesinambungan. menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh shg akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan
(Depkes RI, 2001)
Klasifikasi Lansia
1. Pra lansia (prasenilis)
seseorang yg berusia antara 45-59
2. Lansia
seseorang yg berusia 60 atau lebih
3. Lansia resiko tinggi
berusia 70/lebih atau usia 60/lebih dg masalah kesehatan (Depkes RI, 2003)
4. Lansia potensial
Lansia yg masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yg dpt menghasilkan barang/jasa (Depkes RI, 2003)
5. Lansia tidak potensial
Lansia yg tdk berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI, 2003)


Karakteristik Lansia
1. Berusia lebih dari 60 thn
2. Kebutuhan dan masalah yg bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif
3. Lingkungan tempat tinggal
(Keliat, 1999)
Tipe Lansia
1. Tipe Arif Bijaksana
Kaya dg hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dg perubahan zaman, mampunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, dan menjadi panutan
2. Tipe Mandiri
Mengganti kegiatan yg hilang dg yg baru, selektif dlm mencari pekerjaan, bergaul dg teman, dan memenuhi undangan
3. Tipe Tidak Puas
Konflik lahir batik menentang proses penuaan shg menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan byk menuntut
4. Tipe Pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan pekerjaan apa saja
5. Tipe Bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh
Mitos dan stereotip lansia
1. Mitos kedamaian dan ketenangan
2. Mitos konservatif dan kemunduran
3. Mitos berpenyakitan
4. Mitos senilitas
5. Mitos tidak jatuh cinta
6. Mitos aseksualitas
7. Mitos ketidakproduktifan
Pembinaan Kesehatan Pralansia
Masa pralansia merupakan masa persiapan diri untuk mencapai usia lanjut yg sehat, aktif, dan produktif. Oleh karena itu pada masa ini banyak perubahan yg terjadi seperti menopause, puncak karier, masa menjelang pensiun, dan rasa kehilangan
Hal-hal yg perlu dipersiapkan:
1. Kesehatan
 Latihan fisik/OR scr teratur sesuai kemampuan
 Pengaturan diet
 Tetap bergairah dan memelihara kehidupan seks yg sehat
 Melakukan pemeriksaan fisik yg teratur
 Menghindari kebiasaan buruk
 Memelihara penampilan diri
………….
2. Sosial
 Meningkatkan iman dan takwa
 Tetap setia dg psangan yg sah
 Mengikuti kegiatan sosial
 Meningkatkan keharmonisan RT
 Menyediakan waktu rekreasi
 Tetep mengembangkan hobi/bakat
…………….
3. Ekonomi
 Mempersiapkan tabungan hari tua
 Berwiraswasta
 Mengikuti asuransi
Pembinaan Kesehatan Lansia
Tujuan
Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan utk mencapai masa tua yg bahagia dan berguna dlm kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dg eksistensinya dlm masyarakat (Depkes RI, 2003)
Sasaran
1. Sasaran Langsung
 Kelompok Pralansia
 Kelompok Lansia
 Kelompok Lansia dg risiko tinggi
2. Sasaran tidak langsung
 Keluarga dimana lansia tsb berada
 Organisasi sosial yg bergerak dlm pembinaan lansia
 Masyarakat
Pedoman Pelaksanaan
1. Bagi Petugas Kesehatan
 Upaya promotif, yaitu upaya menggairahkan semangat hidup lansia agar merasa tetap dihargai dan berguna
 Preventif, yaitu upaya pencegahan thd kemungkinan terjadinya komplikasi dari penyakit2 yg disebabkan oleh proses penuaan
 Kuratif, yaitu upaya pengobatan yg penanggulangannya perlu melibatkan multidisplin ilmu kedokteran
 Rehabilatatif, yaitu upaya memulihkan fungsi organ tubuh yg telah menurun
2. Bagi Lansia
Pralansia:
 Informasi adanya proses penuaan
 Pentingnya pemerikasaan keshtan
 Latihan kesegaran jasmani
 Pentingnya diet seimbang
 Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat
Lansia
 Pemeriksaan kesehatan scr berkala
 Kegiatan OR
 Pola makan seimbang
 Perlunya alat bantu sesuai kbthan
 Pengembangan hobi sesuai kmpuan
Lansia Risiko Tinggi
 Pembinaan diri dlm pemenuhan ADL
 Px kesehatn berkala
 Latihan OR
 Pekaian alat bantu sesuai kbthn
 Perawatan fisioterapi
Bagi Keluarga dan Lingkungannya
 Membantu mewujudkan peran serta kebahagiaan & kesejahteraan Lansia
 Usaha pencegahan dimulai dlm rumah tangga
 Membimbing dlm ketakwaan kpd Tuhan YME
 Melatih berkarya & meyalurkan hobi
 Menghargai dan kasih thd para lansia

Late Adulthood (lansia)

Beberapa tokoh perkembangan membedakan antara the young old (65-74 tahun) dan the old-old atau late old age (75 keatas) (Charness & Bosman, 1992 dalam Santrock 1999). Kemudian ada pula yang membedakan the oldest old (85 tahun ke atas) dari younger older adults (Pearlin dalam Pearlin, 1994 dalam Santrock, 1999). Perempuan kebanyakan merupakan anggota dari golongan the oldest old ini. Mereka lebih memiliki rata-rata lebih tinggi dalam keabnormalitasan dan jumlah yang jauh lebih besar dalam hal ketidak mampuan daripada golongan young old. Mereka lebih banyak tinggal di institusi, tidak menikah lagi, lebih sering memiliki pendidikan yang rendah. Banyak oldest old yang masih dapat berfungsi dengan efektif, walaupun yang lain ada pula yang telah menarik diri dari kehidupan sosial dan bergantung kepada masyarakat sekitar dalam hal dukungan financial. Porsi substansial dari oldest old berfungsi dengan baik. Preokupasi masyarakat dengan ketidakmampuan dan mortalitas oldest old telah menyembunyikan fakta bahwa mayoritas older adults berusia 80 tahun dan lebih masih terus berlangsung dalam komunitas. Lebih dari sepertiga older adults berusia 80 dan lebih yang tinggal dalam komunitas melaporkan bahwa kesehatan mereka masih sangat baik atau baik; 40 % mengatakan bahwa mereka tidak memiliki batasan dalam beraktivitas (Suzman & others, 1992 dalam Santrock, 1999).
Tugas perkembangan (Lesmana, 2006)
Tugas perkembangan manula adalah :
  1. Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
  2. Menyesuaikan diri dengan masa pension dan penurunan pendapatan,
  3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan
  4. Memantapkan secara eksplisit bahwa ia ada pada kelompok usianya itu,
  5. Mengadopsi dan mengadaptasi peran sosial secara fleksibel dan
  6. Menetapkan pengaturan kehidupan yang memuaskan.
Tema Utama (Lesmana, 2006)
Tema utama yang timbul pada manula yaitu :
  1. Kesepian
  2. Isolasi sosial
  3. Kehilangan,
  4. Kemiskinan,
  5. Perasaan ditolak,
  6. Perjuangan menemukan makna hidup,
  7. Kebergantungan,
  8. Perasaan tak berguna,
  9. Tak berdaya dan putus asa,
  10. Ketakutan terhadap kematian,
  11. Sedih karena kematian orang lain,
  12. Kemunduran fisik dan mental,
  13. Depresi,
  14. Rasa penyesalan mengenai hal-hal yang lampau
Keprihatinan pada Usia Lanjut
Keprihatinan pada usia ini biasanya menyangkut:
a. Masalah pensiun: mereka yang identitas dirinya amat ditentukan oleh pekerjaan akan mengalami kesulitandalam menyesuaikan diri dengan masa pensiun.
b. Empty Nest: Keluarnya anak-anak dari keluarga (untuk melanjutkan skolah atau menikah) dapat menimbulkan kegoncangan dalam keluarga dan krisis dalam hubungan perkawinan.
c. Kematian: kehilangan teman dekat, pasangan serta ketakutan akan kematian diri dapat menjadi sumber kesedihan dan depresi pada manula.
d. Tinggal di institusi: keharusan untuk tinggal di institusi merupakan sesuatu yang amat menyakitkan.
Perubahan Fisik pada Manula
Beberapa perubahan fisik pada manula adalah:
  1. Sistem Kardiovaskuler: Jantung orang yang lebih tua mungkin bekerja dengan lebih keras untuk memompa jumlah darah yang sama, sehingga akibatnya mungkin timbul peningkatan tekanan darah.
  2. Sistem visual: Dengan menjadi makin tua, makin diperlukan cahaya untuk dapat melihat lebih jelas. Membaca makin sulit, mungkin membutuhkan lensa korektif.
  3. Kulit: elastisitas berkurang seiring bertambahnya usia.
  4. Keseimbangan; Setelah usia 50 tahun mulai menurun.
  5. Intelegensi: Bahwa intelegensi menurun pada lansia adalah mitos. Memang ada penurunan fungsi memori. Namun penelitian menunjukkan perbendaharaan kata lebih baik pada orang usia 70 daripada 30.
.
Loneliness
Loneliness berkaitan dengan gender, sejarah attachment, self-esteem, dan keterampilan sosial (Perlman & Peplau, 1998 dalam Santrock, 1999). Kurangnya waktu yang dihabiskan dengan keluarga (pada laki-laki dan perempuan) berkaitan dengan loneliness. Dua cara yang direkomendasikan untuk mengurangi loneliness adalah : (Peplau & Perlman dalam Santrock, 1999). :
1. Mengubah hubungan sosial yang tengah berlangsung
2. Mengubah hasrat dan kebutuhan sosial
Dari kedua cara tersebut, cara yang paling langsung dan memuaskan untuk mengurangi loneliness adalah meningkatkan hubungan sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan membentuk hubungan baru yaitu dengan menggunakan jaringan sosial yang sudah ada dengan lebih baik, atau menciptakan pengganti hubungan dengan hewan peliharaan dan hobi atau kesukaan. Cara kedua untuk mengurangi loneliness adalah mengurangi hasrat untuk melakukan kontak sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih aktivitas yang dapat dinikmati sendiri daripada aktivitas yang harus ditemani oleh orang lain. Cara ketiga yang sayangnya sering diambil oleh kebanyakan orang adalah dengan menjauhkan diri mereka dari rasa sakit seperti minuman keras, atau menjadi workaholic. Salah satu cara untuk mencegah loneliness adalah ikut terlibat dalam aktivitas dengan orang lain. Contohnya adalah memperbanyak kesempatan untuk bertemu dengan orang lain dan ikut terlibat melalui pekerjaan, sekolah, komunitas, dan organisasi keagamaan. Seseorang juga dapat bergabung dengan suatu organisasi dan merelakan waktunya untuk sebuah hal yang mereka yakini. Loneliness sering muncul akibat kehilangan kontak sosial. Pindah ke komunitas baru, berganti pekerjaan biasanya menurunkan jumlah kontak sosial seseorang. Cara yang paling efektif dalam mencegah loneliness adalah mengembangkan minat dan aktivitas yang membuka kesempatan untuk mengembangkan kontak sosial.
Aspek hubungan sosial pada Lansia
Lillian Troll (1994, 2000 dalam Santrock, 2006) menemukan bahwa lansia yang berhubungan dekat dengan keluarganya mempunyai kecenderungan lebih sedikit untuk stres dibanding lansia yang hubungannya jauh. Berikut adalah 3 aspek hubungan sosial pada lansia, yaitu hubungan pertemanan (friendship), dukungan sosial (sccial support) dan integrasi sosial (social integration).
a. Friendship
Laura Carstensen (1998) menyimpulkan bahwa orang cenderung mencari teman dekat dibandingkan teman baru ketika mereka semakin tua. Penelitian membuktikan bahwa lansia perempuan yang tidak memiliki teman baik kurang puas akan hidupnya dibanding yang mempunyai teman baik.
b. Sosial support dan sosial integration
Menurut penelitian, dukungan sosial dapat membantu individu untuk mengatasi masalahnya secara efektif. Dukungan sosial juga dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada lansia (Bioschop&Others, 2004 Erber, 2005; Pruchno&Rosenbaum, 2003 dalam Santrock, 2006). Dukungan sosial berhubungan dengan pengurangan gejala penyakit dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri akan perawatan kesehatan. (Cohen, Teresi,&Holmes, 1985 dalam Santrock, 2006). Toni Antonucci (1990, dalam Santrock 1999) menyimpulkan bahwa interaksi sosial dengan orang-orang yang menyediakan dukungan sosial memberikan pandangan yang lebih positif mengenai dirinya kepada orang-orang tua tersebut. Dukungan sosial juga mempengaruhi kesehatan mental dari para orang tua tersebut. Para orang tua yang mengalami depresi memiliki jaringan sosial yang kecil, mengalami masalah dalam berinteraksi dengan anggota dalam jaringan sosial yang mereka miliki, dan sering mengalami pengalaman kehilangan dalam hidup mereka (Coyne, Wortman, & Lehman, 1988; Newson & Schulz, 1996 dalam Santrock 1999)
c. Integrasi sosial
Integrasi sosial memainkan peranan yang sangat penting pada kehidupan lansia. Kondisi kesepian dan terisolasi secara sosial akan menjadi faktor yang beresiko bagi kesehatan lansia (Rowe&Kahn, 1997 dalam Santrock, 2006). Sebuah studi menemukan bahwa dengan menjadi bagian dari jaringan sosial, hal ini akan berdampak pada lamanya masa hidup, terutama pada laki-laki (House, Landis&Umberson, 1988 dalam Santrock, 2006).
Religi
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Studi lain menyatakan bahwa praktisi religius dan perasaan religius berhubungan dengan sense of well being, terutama pada wanita dan individu berusia di atas 75 tahun (Koenig, Smiley, & Gonzales, 1988 dalam Santrock, 2006). Studi lain di San Diego menyatakan hasil bahwa lansia yang orientasi religiusnya sangat kuat diasosiasikan dengan kesehatan yang lebih baik (Cupertino & Haan, 1999 dalam Santrock, 2006).
Agama dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting pada lansia dalam
hal menghadapi kematian, menemukan dan mempertahankan perasaan berharga dan pentingnya dalam kehidupan, dan menerima kekurangan di masa tua (Daaleman, Perera &Studenski, 2004; Fry, 1999; Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock, 2006). Secara sosial, komunitas agama memainkan peranan penting pada lansia, , seperti aktivitas sosial, dukungan sosial, dan kesempatan untuk menyandang peran sebagai guru atau pemimpin. Hasil studi menyebutkan bahwa aktivitas beribadah atau bermeditasi diasosiasikan dengan panjangnya usia (McCullough & Others, 2000 dalam Santrock, 2006). Hasil studi lainnya yang mendukung adalah dari Seybold&Hill (2001 dalam Papalia, 2003) yang menyatakan bahwa ada asosiasi yang positif antara religiusitas atau spiritualitas dengan well being, kepuasan pernikahan, dan keberfungsian psikologis; serta asosiasi yang negatif dengan bunuh diri, penyimpangan, kriminalitas, dan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Hal ini mungkin terjadi karena dengan beribadah dapat mengurangi stress dan menahan produksi hormon stres oleh tubuh, seperti adrenalin. Pengurangan hormon stress ini dihubungkan dengan beberapa keuntungan pada aspek kesehatan, termasuk sistem kekebalan tubuh yang semakin kuat (McCullough & Others, 2000 dalam Santrock, 2006).
Lansia dengan komitmen beragama yang sangat kuat cenderung mempunyai harga diri yang paling tinggi (Krase, 1995 dalam Papalia, 2003). Individu berusia 65 ke atas mengatakan bahwa keyakinan agama merupakan pengaruh yang paling signifikan dalam kehidupan mereka, sehingga mereka berusaha untuk melaksanakan keyakinan agama tersebut dan menghadiri pelayanan agama (Gallup & Bezilla, 1992 dalam Santrock 1999). Dalam survey lain dapat dilihat bahwa apabila dibandingkan dengan younger adults, dewasa di old age lebih memiliki minat yang lebih kuat terhadap spiritualitas dan berdoa (Gallup & Jones, 1989 dalam Santrock 1999).. Dalam suatu studi dikemukakan bahwa self-esteem older adults lebih tinggi ketika mereka memiliki komitmen religius yang kuat dan sebaliknya (Krause, 1995 dalam Santrock, 1999). Dalam studi lain disebutkan bahwa komitmen beragama berkaitan dengan kesehatan dan well-being pada young, middle-aged, dan older adult berkebangsaan Afrika-Amerika (Levin, Chatters, & Taylor, 1995 dalam Santrock 1999). Agama dapat menambah kebutuhan psikologis yang penting pada older adults, membantu mereka menghadapi kematian, menemukan dan menjaga sense akan keberartian dan signifikansi dalam hidup, serta menerima kehilangan yang tak terelakkan dari masa tua (Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock 1999). Secara sosial. Komunitas religius dapat menyediakan sejumlah fungsi untuk older adults, seperti aktivias sosial, dukungan sosial, dan kesempatan untuk mengajar dan peran kepemimpinan. Agama dapat memainkan peran penting dalam kehidupan orang-orang tua (Mcfadden, 1996).
Model Lansia yang “sukses” atau “optimal”
Para teoris tidak sepakat untuk mendefinisikan dan mengukur masa tua yang sukses atau optimal. Beberapa investigator memfokuskan pada fungsi jantung, performa kognitif, dan kesehatan mental yang seperti diharapkan. Peneliti lain memfokuskan pada produktivitas, ekonomi dan lainnya sebagai kriteria penting untuk hidup sehat. Sementara pendekatan lain mencoba menguji pengalaman subyektif, yaitu bagaimana individu berhasil mencapai tujuannya dan seberapa puas mereka dengan hidupnya. Menanggapi hal ini, beberapa teori klasik maupun yang baru menjelaskan tentang masa tua yang baik, diantaranya adalah teori disengagement versus activity, teori kontinuitas, peran produktivitas, dan optimisasi selektif dengan kompensasi.
Menurut teori aktivitas, peran yang disandang oleh lansia adalah sumber kepuasan yang besar; semakin besar mereka kehilangan peran setelah masa pensiun, menjanda, jauh dari anak-anak, atau infirmitas, maka semakin merasa tidak puaslah mereka. Orang yang tumbuh menjadi tua akan mempertahankan aktivitasnya sebanyak mungkin dan menemukan pengganti bagi perannya yang sudah hilang (Neugarten, Havighurst,&Tobin, 1968 dalam Papalia, 2003). Penelitian lain juga menyatakan hasil bahwa keterlibatan dalam aktivitas yang menantang dan peran sosial mennimbulkan retensi pada kemampuan kognitif dan mungkin berefek positif pada kesehatan dan penyesuaian diri sosialnya.
Menjadi seseorang yang aktif adalah hal yang penting untuk menjadi successfull aging. Selain itu, lansia yang sukses juga melibatkan perasaan kontrolnya terhadap lingkungan dan self efficacy (Bertrand&Lachman, 2003 dalam Santrock, 2006). Menurut hasil studi, diet yang tepat, gaya hidup yang aktif, stimulasi mental, dan fleksibilitas, positive coping skill, mempunyai hubungan dan dukungan sosial yang baik, dan jauh dari penyakit serta kemampuan lainnya dapat dipertahankan atau bahkan dapat dikembangkan ketika seseorang beranjak menjadi tua.